ASPEK SRUKTURAL AN KULTURAL MASYARAKAT SEKITAR PERKEBUNAN (SUKU RIMBA)

Sampai sekarang, kebudayaan masyarakat tradisional orang Rimba bertahan dari tekanan hidup yang muncul dari pinggiran tanah tradisional mereka. Kelihatannya, mau atau tidak mau, masyarakat transmigrasi dan perantau baru yang mempunyai kebudayaan pasca tradisional masuk dengan jumlah cukup besar

 dalam waktu 20 tahun terakhir. Hal ini berdampak pada pencarian nafkah, kehidupan sosial dan aspek kehidupan lain orang Rimba

secara drastis. Misalnya, penebangan kayu resmi maupun liar dan pembukaan lahan untuk perkebunan karet dan kelapa sawit, adalah aktivitas yang tidak umum di kehidupan orang Rimba dan benar dirasakan oleh orang Rimba. Mereka merupakan suku yang tergolong defensif dan tidak terbiasa melakukan peperangan atau berjuang untuk mempertahankan hak adatnya yang tidak selalu diterima oleh institusi resmi pemerintah yang mengatur hukum.

Apabila kita mengamati struktur sosial masyarakat akan menunjuk kepada suatu jenis suasana dan aturan. Komponen tersebut adalah unit-unit struktur sosial yang terdiri dari orang atau masyarakat yang memenuhi kedudukan dalam struktur sosial (Radcliff-Brown 1980: xix). Misalnya, sejak kecil orang Rimba sadar bahwa struktur masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pangan, papan dan sandang, dan memenuhi kebutuhan abstrak termasuk kebutuhan psikologis yang mewujudkan kosmologi atau pola pikir mereka.

Kelihatannya bahwa untuk memenuhi kebutuhan materiil masyarakat pasca tradisional perlu mengakseskan hasil alam, yang terletak di kawasan suku tradisional. Daerah eksplorasi dibuka supaya bahan alam ditebang atau ditambang dan diangkut keluar untuk memenuhi kepuasan pasar yang di luar tanah tradisional. Demikian kelihatan kebutuhan masyarakat pasca tradisional diprioritaskan, sebenarnya eksploitasi tanah yang sebenarnya “Lebensraum” kelompok tradisional.

 A.  Aspek Struktural Masyarakat Suku Rimba

1.      Topografi

Daerah bukit Duabelas terdiri dari beberapa bukit, bernama bukit Subanpunai. Banyak dengan ketinggian 160 meter, pegunungan Panggang dengan ketinggian 328 meter, bukit Kuaran dengan ketinggian 436 meter. Keadaan propinsi luas tanah, cadangan hutan luas iklim dan curah yang hampir merata sepanjang tahun serta aliran Sungai Batanghari yang salah satu sungai terbesar di Indonesia yang membujur dari barat ke arah timur dengan berpuluh-puluh anak sungai, menjadi faktor yang strategis bagi lalu lintas perdagangan .

Di pedalaman terdapat orang Sakai, yang berlokasi diantara sungai Rokan dan Siak. Orang Petalangan ada diantara sungai Siak dan Kampur dan diantara sungai Kampar dan Indragiri. Ada orang Talang Mamak diantara sungai Indragiri dan Batang Hari. Orang Batin Sembilan di daerah antara sungai Batang Hari dan Musi, tetapi khususnya di sisi perbatasan propinsi Jambi. Orang Bonai, yang mendiami di kawasan berawa di pertengahan Daerah Aliran Sungai (DAS) sungai Rokan yang bersebelahan kawasan orang Sakai.

2.      Pola Pemukiman dan Lingkungan

Pure Isolated Farm Type adalah tipe pemukiman penduduk yang menyebar dan jauh dari Trade Center (pasar). Penyebaran pemukiman penduduk yang tidak teratur, dan biasanya terdapat di sekitar perkebunan kelapa sawit mengakibatkan adanya interaksi antara orang rimba dan masyarakat pendatang.

Bagi masyarakat suku rimba yang tinggal disekitar perkebunan kelapa sawit pada tahun 1999 telah didirikan perumahan oleh pemerintah. Dengan beberapa toko  kecil yang menjual bahan pokok, sekolah dasar dan guru, serta terdapat rumah ibadah.

Perkebunan swasta adalah tempat terdekat mencari nafkah. Penghasilan buruh perkebunan tujuh ribu rupiah per hari , bekerja tiap hari dari jam enam pagi sampai kira-kira jam satu sore. Dengan traktor, mereka di jemput dan diantar setiap hari. Walaupun lapisan masyarakat terbawah berhak mendapat kartu sehat, tetapi penduduk suku rimba belum mendapatkannya. Hal ini menjadi  alasan beberapa penduduk untuk pindah ke luar dari pemukiman sekitar perkebunan.

3.      Mata Pencarian

Secara tradisional pada dasarnya kebutuhan makanan pokok dan kebutuhan lain dipenuhi oleh hutan. Gaya hidup tradisional terdiri dari berburu dan meramu (hunting and gathering). Pada umumnya mereka menggunakan uang hanya dengan orang luar (terang).

Dewasa ini, pola niaga berubah dan kelompok orang Rimba mulai tertarik dengan hal yang terbuat dari besi, kain dan rokok.

4.      Stratifikasi Sosial

Kebudayaan orang Rimba juga mengenal sistem pelapisan sosial. Temenggung adalah pemimpin utama dalam struktur kelompok., yang posisinya diwarisi sebagai hak lahir dari orang tua. Tetapi, jika pemimpin tidak sesuai atau disetujui oleh anggota kelompok, pemimpin bisa diganti melalui jalur “diskusi terbuka” atau forum yang bisa dilakukan dimana mana.

Menurut mantan Temenggung Biring, pak Helmi, struktur masyarakat terdiri dari: Temenggung adalah kepala suku. Ketika dia absen dia diwakili wakil Temenggung. Seorang yang bergelar Depati bertugas  menyelesaikan hal-hal yang terkait dengan hukum dan keadilan. Seorang yang bergelar Debalang yang tugasnya terkait dengan stabilitas keamanan masyarakat dan seorang yang bergelar Manti yang tugasnya memanggil masyarakat pada waktu tertentu. Pengulu adalah sebuah institusi social yang mengurus dan memimpin masyarakat orang Rimba. Ada juga yang bertugas seperti dukun, atau Tengganai dan Alim yang mengawasi dan melayani masyarakat dalam masalah spiritual dan di bidang kekeluargaan, nasehat adat dan sebagainya.

Temenggung Tarib sangat aktif mengorganisir hubungan dengan dunia luar, supaya nasib orang Rimba diketahui. Misalnya dia bertemu dengan Presiden Megawati Sukarnoputri, menjadi pewakil orang Rimba dalam Kongres Masyarakat Adat Nusantara di Jakarta, 15-22 Maret 1999 dan wakil orang Rimba untuk Dewan Aliansi Daerah untuk Aliansi Masyarakat Daerah propinsi Jambi dari periode 1999 sampai sekarang.

 B.  Aspek Kultural Masyarakat Suku Rimba

1.      Kepercayaan dan Kosmos orang Rimba

Menurut salah satu mitos yang di ceritakan orang Rimba, mereka berasal dari Pagaruyung (Minangkabau) dan bersumpah bahwa mereka tidak berkampung, dan tidak makan makanan binatang yang dipelihara termasuk ayam, bebek, kambing dan sapi. Makanan lain yang haram atau tabu termasuk telur dan susu. Dengan pengalaman hidup di hutan dan pengalaman interaksi terbatas dengan dunia luar, kepercayaan dan kosmologi yang muncul dan unik serta berbeda dari pola pikir masyarakat umum.

Konsep dunia mereka dibagi halo nio atau dunia disini (dunia nyata) dan halom Dewa atau dunia di atas (dunia setelah wafat). Kedua dunia tersebut dikontraskan dengan istilah kasar dan haluy, atau kasar dan halus yang diatur oleh Tuhan. Tuhannya tidak bisa dilihat seperti juga Dewa, tetapi bisa didengar sebagai bunyi alam yang keras seperti kicau burung. Dewa-dewi berada di hutan, di puncak bukit, tempat air dan dipinggir sungai. Dewa-dewi yang tinggal di hulu sungai dianggap sebagai Dewa yang bermanfaat, Dewa-dewi yang tinggal di hilir sungai, tempat kebanyakan orang Melayu tinggal, dianggap sebagai pembawa hal-hal yang jelek seperti penyakit cacar dan pedagang budak.

Dewa Silum-on dilihat sebagai kultivator pohon bambu dan juga dilihat sebagai orang “me-layu”, tetapi Dewa tersebut juga bisa dipanggil untuk melakukan hubungan dengan Dewa-dewi lain. Dewa Mato merego atau Harimau juga diklasifikasikan sebagai orang me-layu, yang cenderung mengharamkan manusia, termasuk orang Rimba.

2.      Adat Istiadat

Di daerah propinsi Jambi, ahli ilmu arkeologi menemukan beberapa tempat benda-benda flakes yang membuktikan bahwa sekitar 4000 Sebelum Masehi (SM) pada zaman Mesolithicum didiami manusia. Kemudian, menurut hipotesis menjelang akhir zaman Neolithicum perantau baru dating dari dataran Asia yang membawa kebudayaan batu besar atau era Megalithicum. Buktinya terdapat dalam benda Kisten Stenen diteliti oleh Bot sekitar daerah Bangko. Dari zaman Perunggu ditemui benda-benda seperti sebuah bejana dan sebuah guci, yang berisi perhiasan kalung.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 36,892 hits
%d blogger menyukai ini: