KLASIFIKASI HATI KITA

Dalam kehidupan sehari-hari kita tentu menjumpai berbagai jenis karakter atau kepibadian manusia yang bermacam-macam. Ada karakter yang temperamental hingga karakter yang lemah lembut. Lalu dari mana datangnya karakter-karakter yang berbeda tersebut?
Respon setiap orang terhadap suatu masalah tentu berbeda dari orang yang lainnya, misalnya ketika ingin berangkat ke kampus tapi ban motornya bocor ada orang yang berinisiatif naik kendaraan umum, tapi ada orang yang lain yang lebih memilih untuk menambal ban motornya terlebih dahulu, ada yang meminta jemput temannya, malahan ada yang menjadikannya sebagai alasan untuk tidak kuliah. Yah, berbagaai respon tersebut tentunya dipengaruhi oleh kepribadiannya. Lalu yang mempengaruhi kepribadiannya hingga memilih berbagai alternatif tersebut apa sih?
Kita mengetahui bahwa selama ini yang menjadi pusat piker kita, pengendali tindakan kita adalah otak. Tanpa kita sadari, ternyata kemampuan otak yang dahsyat tersebut tidak dapat berfungsi dengan baik tanpa adanya pengendalian dari komponen lain. Ada sesuatu di dalam diri kita yang juga mempengaruhi kerja otak kita. Apakah itu?
Rasulillah SAW bersabda : ”Sesunggguhnya dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Jika ia sehat, maka seluruh tubuh pun sehat, dan jika ia sakit, seluruh tubuh pun sakit. Itulah hati.” (HR. Bukhari-Muslim)
Jadi jelaslah bahwa hati itu sangat mempengaruhi bagian tubuh yang lain, tidak terkecuali otak kita yang sangat sangat dahsyat. Hatilah yang mempengaruhi otak. Otak merumuskan suatu masalah yang dihadapi, menerjemahkanya, dan membuat berbagai pilihan untuk menghadapinya. Lalu di dalam hati pilihan-pilihan tersebut diolah, ditimbang, ditakar untuk menentukan pilihan mana yang dianggap paling tepat. Bila orang yang memiliki hati yang baik dan jernih, maka akan memilih pilihan yang baik untuknya dan baik bagi orang lain, sehingga dalam kesehariannya ia akan menyenangkan dan menarik hati orang lain. Sedangkan bagi orang yang memiliki hati yang kotor, akan memilih pilihan yang menyenangkan bagi dirinya tanpa memikirkan orang lain, sehingga dalam kesehariannya mereka meresahkan orang lain dan membahayakan dirinya sendiri.
Ternyata dalam menyikapi dan merespon suatu masalah, manusia dipengaruhi oleh kondisi hatinya. Lalu apa saja sih klasifikasi hati yang dimiliki oleh setiap manusia? Ibnu Qayyim al-jauziyyah dalam bukunya Thibb al-Qulub menjelaskan berbagai kondisi hati manusia yaitu antara lain :
1. Hati yang Sehat/Hati yang Lembut
Pemilik hati yang sehat adalah mereka yang terbebas dari nafsu syahwatnya untuk melanggar larangan Allah SWT, bebas dari berbagai penyakit hati, cinta kepada Allah SWT, harapan dan tawakalnya hanya kepada Allah SWT semata. Inilah hati yang sehat meurut Ibnu Qayyim.
Pemilik Hati yang sehat merupakan orang yang mampu memahami apa arti penting dari hidup, selalu optimis, selalu bersyukur, penuh dengan semangat yang berkobar, percaya diri dan mantap dalam menjalani kehidupannya. Ia tidak mudah putus asa karena percaya bahwa Allah senantiasa mencurahkan rahmat dan kasih sayang-Nya kepadanya. Bersyukur kepada Allah Swt merupakan obat untuk mengatasi badai kehidupan. Ia percaya kepada Qadha dan Qadar Allah Swt, sehingga dalam menghadapi permasalahan kehidupan ia selalu optimis. Ia menerima takdir yang diterimanya sebagai keputusan Allah yang merupakan pilihan terbaik yang diberikan Allah Swt kepadanya, sehingga peyakit-penyakit hati tidak dapat menembus hatinya.
2. Hati yang Mati/Hati yang Keras
Ibnu Qayyim menerangkan :
“ … itulah hati yang mati, yang tidak mengenal Tuhannya, tidak menyembah-Nya sesuai perintah-Nya.Hati yang selalu memperturutkan hawa nafsu dan kesenangannya, meski yang demikian itu mendatangkan amarah dan murka Allah. Dia tidak peduli apakah akan memuaskan nafsu dan hasratnya, Tuhannya rela atau murka. Hati seperti itu menjadi budak selain Allah dalam cinta, takut, rela, murka, dan hina. Bila ia bercinta karena hawa nafsunya, bila marah juga karena hawa nafsunya, bila member karena keinginannya untuk member, bila menahan karena nafsnya melarng auntuk member. Hawa nafsunya lebih dicintai daripada Tuhannya. Hawa nafsu sebagai imamnya, Syahwat sebagai pemimpinnya, kebodohan sebagai sopirnya, dan lalai sebagai kendaraannya.”
Dengan jelas Ibnu Qayyim menerangkan bahwa pemiliki hati ini adalah orang yang tidak mampu mengalahkan hawa nafsuya, bahkan dikalahkan oleh hawa nafsunya sendiri. Hatinya telah dikuasai dan tertutup oleh hawa nafsu, sehingga tidak mampu menerima hidayah yang selalu diberikan oleh Allah Swt. Segala sikap dan tingkah lakunya berasal dari nafsunya, sehingga sering kali melakukan kemungkaran, kemaksiatan dan kezaliman baik terhadap orang lain maupun dirinya sendiri. Hatinya akan semakin mengeras hingga lebih keras dari pada batu, ia telah terperosok kedalam lubang kesesatan yang sangat dalam sehingga tidak terjangkau indahnya cahaya Illahi. Semoga Allah kembali menghidupkan hatinya, sehingga ia kembali kejalan Allah Swt.
3. Hati yang Sakit
Hati ini hidup, tapi cahayanya redup. Ibnu Qayyim menyimpulkan :
“ Hati seperti ini menjadi objek seruan dari dua sisi. Satu sisi mengajaknya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan sisi lain mengajaknya kepada kemewahan duniawi. Dari keduanya, hati akan memenuhi ajakan mana yang pintunya lebih dekat kepadanya (kembai kepada kesdaran individu masing-masing).”
Pemilik hati ini masih bingung dalam menjalani kehidupannya, kadang cintanya kepada Allah lebih dominan, kadang cinta kepada dunia yang lbih dominan. Ia percaya kepada Allah Swt, cinta kepada-Nya, dan mengharapkan pertolongan dari-Nya.
Tapi di dalam hatinya juga terdapat rasa cnta yang mendalam terhadap hawa nafsunya, mencintai dunia, harta, mendahulukan kepentingan duniawi, sikap sombong, iri dan dengki.
Hati ini merupakan hati yang tidak stabil, mudah terpengaruh urusan dunia, dan mudah melalaikan kewajiban sebagai hamba-Nya. Masih terdapat sikap ragu dalam hatinya untuk menjalankan perintah dan larangannya akibat dari rasa cintanya yang mendalam kepada dunia. Terkadang ia berada pada jalur yang benar, terkadang pula ia tersesat, bahkan menyesatkan dirinya.
Hati ini masih dapat diobati dengan bekal kesungguhan untuk mengobatinya. Butuh waktu dan keseriusan pula, jangan sampai hati yang sakit menjadi hati yang mati. Oleh karena itu, segera sembuhkanlah hati anda dan sambutlah rahmat yang tak terhingga dari-Nya.

Jadi, dari ketiga kondisi hati itu, yamg mana kah kondisi hati kita berada?
Apakah hati kita termasuk hati yang mati? Na’udzubillah, semoga kita tidak termasuk hati ini.
Yang manapun kondisi hati kita, semoga Allah senantiasa menunjukan jalan yang di ridhoi-Nya kepada kita, dan kita selalu dapat berjalan di jalan Allah Swt, tidak tersestkan oleh nafsu duniawi kita, dan selalu istiqomah menjalankan kewajiban kita sebagai hamba-Nya. Aamiiiin.
Semoga sepotong tulisan ini membawa manfaat bagi diri kita semua, dan semoga Allah meridhoi-Nya.
wasalam. wr.wb.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 36,892 hits
%d blogger menyukai ini: